Suarakemanusiaan.com,- Kediaman pribadi Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Muhammad Jusuf Kalla di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dipenuhi wajah-wajah lama yang datang membawa doa. Sabtu (16/5/2026), lelaki yang akrab disapa JK itu merayakan ulang tahunnya yang ke-84 dalam suasana hangat dan sederhana.
Di antara tamu yang hadir tampak Anies Baswedan, Rachmat Gobel, Komaruddin Hidayat, Sudirman Said, Alwi Shihab, hingga Duta Besar Afghanistan untuk Indonesia. Mereka datang bukan sekadar menghadiri ulang tahun, tetapi seperti sedang membuka kembali lembar panjang perjalanan seorang Jusuf Kalla.
Di sudut ruangan, tersusun empat buku yang dibagikan kepada para tamu. Judulnya seperti potongan hidup JK sendiri, yakni Hentikan Konflik: 7 Kunci Sukses Perdamaian Jusuf Kalla, Kepemimpinan Idiosinkratik Jusuf Kalla, JK Dalam Pusaran Algoritma, dan Jejak Kemanusiaan Jusuf Kalla.
Dalam pidatonya, JK berbicara pelan, namun hangat. Usia 84 tahun membuatnya lebih banyak melihat ke belakang, memungut ulang perjalanan yang pernah ia lalui.
“Apabila kita bersyukur merayakan umur yang alhamdulillah cukup panjang, tentu kita merasa bersyukur atas apa yang telah kami lakukan,” ujar JK.
Baginya, hidup berjalan seperti tiga babak yang berbeda. Masa kecil hingga usia 25 tahun diisi sekolah dan organisasi. Setelah itu, ia masuk ke dunia usaha, melanjutkan perusahaan sang ayah. Lalu perlahan masuk ke politik dan pemerintahan.
“Hidup saya itu terbagi tiga bagian. Sepertiga, sepertiga. Dari kecil sampai 25 tahun, sekolahan. Sambil aktif bermacam-macamlah kalau dihitung jumlahnya kegiatan itu. Segala macam organisasi dijalani, 25 tahun,” kata dia.
Di hadapan tamu yang hadir, JK juga menoleh kepada istrinya, Mufidah Jusuf Kalla. Dengan nada ringan, ia mengenang perjalanan rumah tangga mereka yang hampir memasuki 57 tahun.
“Tahun depan sudah 57 tahun kita sama-sama. Perkawinan. Ya tapi alhamdulillah kita nikmati, apa pun tantangannya kita hadapi, selesaikan, dan sebagainya,” tutur dia.
Namun, satu hal yang tampaknya tak pernah benar-benar ditinggalkan JK adalah urusan perdamaian. Dari Aceh hingga berbagai konflik di luar negeri, ia masih percaya bahwa mendamaikan manusia adalah pekerjaan paling mulia.
“Prinsip saya perdamaian itu tidak boleh diumbar. Tidak boleh dipublikasikan sebelum mencapai 80 persen. Dulu Aceh begitu, tidak ada yang tahu bahwa ada pertemuan di Helsinki sampai selesai,” ujar dia.
Bahkan, ia mengaku kini masih diminta membantu penyelesaian konflik di dua negara lain.
“Insyaallah mudah-mudahan dua negara yang kami sedang garap, ini bukan saya bilang, mereka minta semua agar Bapak datang selesaikan konflik negaranya itu,” kata JK.
Di akhir pidatonya, JK mengutip hadis tentang pentingnya mendamaikan sesama manusia.
“Rasulullah berkata, ‘Apakah kau tahu tentang amal yang lebih tinggi daripada salat dan puasa?’ Sahabatnya mengatakan, ‘Saya tidak tahu ya Rasulullah.’ ‘Amal yang lebih tinggi daripada salat dan puasa ialah mendamaikan orang,’” ujar JK.
“Jadi, mendamaikan satu orang saja, kalau mendamaikan banyak orang tentu lebih banyak lagi, kan?” lanjutnya.
Selamat Ulang Tahun Pak Ketua Umum PMI semoga selalu di beri kesehatan dalam misi misi kemanusiaan.
(Redaksi***)

Tinggalkan Balasan