Sukabumi, Suarakemanusiaan.com – Upaya memperkuat ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana terus dikembangkan. Palang Merah Indonesia (PMI) bersama Yayasan Saka Warga Indonesia segera meluncurkan Warga Siaga E-CBAT, aplikasi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung kerja Relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT).
Aplikasi ini dirancang untuk membantu relawan meningkatkan kesiapsiagaan desa secara lebih efektif, partisipatif, dan berkelanjutan. Peluncuran tahap awal dijadwalkan berlangsung pada awal Juli 2026 dengan melibatkan sekitar 100 hingga 150 anggota SIBAT dari tujuh desa dampingan di Sukabumi.
Implementasi awal ini menjadi bagian dari transformasi digital kesiapsiagaan bencana berbasis komunitas. Program tersebut dikembangkan melalui kolaborasi PMI, relawan SIBAT, Yayasan Saka Warga Indonesia, serta para ahli kebencanaan.
Berbeda dari aplikasi kebencanaan pada umumnya, Warga Siaga E-CBAT dibangun dengan pendekatan Human-Centered Design (HCD) atau desain yang berpusat pada pengguna. Seluruh proses pengembangannya melibatkan berbagai pihak, mulai dari PMI Pusat, praktisi kebencanaan, fasilitator SIBAT, hingga relawan yang selama ini mendampingi masyarakat di tingkat desa.
Melalui pendekatan tersebut, aplikasi dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan. Warga Siaga E-CBAT diharapkan dapat menjadi asisten digital bagi relawan dalam merencanakan, melaksanakan, dan memantau berbagai aktivitas kesiapsiagaan bencana.
“Aplikasi ini lahir dari pengalaman para relawan di lapangan. Teknologi kami hadir bukan untuk menggantikan peran manusia, tetapi memperkuat kapasitas Relawan SIBAT dalam mendampingi masyarakat agar semakin siap menghadapi berbagai ancaman bencana,” ujar Alfan Kasdar, tim pengembang Warga Siaga, dalam kegiatan Pre-Release Meeting bersama PMI.
Dibangun Bersama PMI dan Relawan SIBAT
Alfan menjelaskan, pengembangan aplikasi Warga Siaga E-CBAT dimulai sejak Januari 2026. Proses tersebut dilakukan melalui serangkaian riset, penyusunan arsitektur AI, kurasi pengetahuan kebencanaan, pengumpulan data desa, hingga uji coba bersama relawan.
Menurutnya, seluruh materi yang menjadi dasar rekomendasi AI telah melalui proses kurasi dan validasi oleh PMI. Dengan begitu, setiap saran yang diberikan aplikasi tetap mengacu pada prinsip kesiapsiagaan bencana yang berlaku.
Data yang digunakan dalam aplikasi juga bukan berasal dari sumber umum. Data tersebut bersumber dari Enhanced Vulnerability and Capacity Assessment (EVCA) yang dikumpulkan langsung oleh Relawan SIBAT di masing-masing desa.
Pendekatan ini membuat aplikasi mampu memberikan rekomendasi yang lebih spesifik sesuai karakteristik wilayah, potensi ancaman, serta kapasitas setiap desa.
Bantu Relawan Susun Rencana Aksi
Warga Siaga E-CBAT menghadirkan sejumlah fitur untuk mendukung aktivitas Relawan SIBAT. Fitur tersebut meliputi analisis kondisi desa, penyusunan rencana aksi kesiapsiagaan, daftar tugas otomatis, pengingat kegiatan, penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP), hingga panduan menghadapi berbagai skenario bencana.
Seluruh proses tersebut dibantu teknologi AI yang bekerja berdasarkan basis pengetahuan kebencanaan dan data desa yang telah diverifikasi bersama PMI.
“Selain mendukung perencanaan, aplikasi juga dilengkapi sistem gamifikasi berupa poin bagi relawan maupun desa sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi aktif dalam membangun budaya kesiapsiagaan,” terang Alfan.

Melalui sistem tersebut, semangat relawan diharapkan dapat terus terjaga, tidak hanya saat terjadi bencana, tetapi juga pada masa normal. Relawan dapat terus menjalankan kegiatan edukasi, simulasi, dan pengurangan risiko bencana di masyarakat.
Telah Diuji Bersama Relawan
Sebelum resmi digunakan, seluruh fitur Warga Siaga E-CBAT telah melewati dua tahap codesign bersama perwakilan Relawan SIBAT dari tujuh desa.
Masukan dari para relawan menjadi dasar penyempurnaan berbagai aspek aplikasi. Penyempurnaan itu mencakup tampilan, kemudahan penggunaan, penyederhanaan alur, sistem poin, hingga penyusunan SOP kesiapsiagaan.
Tahapan tersebut dilakukan agar aplikasi benar-benar mudah digunakan oleh relawan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di tingkat desa.
Ada Pendampingan Mingguan
Setelah peluncuran, PMI bersama tim Warga Siaga akan menggelar Weekly Activation Sessions atau sesi pendampingan mingguan bagi seluruh pengguna aplikasi.
Pendampingan ini bertujuan memastikan aplikasi tidak hanya diunduh, tetapi juga benar-benar dimanfaatkan sebagai alat pendukung aktivitas Relawan SIBAT dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat.
Selain menjadi ruang berbagi pengalaman antardesa, sesi tersebut juga akan menjadi bagian dari evaluasi dan penyempurnaan aplikasi secara berkelanjutan.
Dorong Desa Lebih Tangguh
PMI dan Yayasan Saka Warga Indonesia berharap implementasi tahap awal di Sukabumi dapat menjadi model pengembangan kesiapsiagaan berbasis teknologi yang bisa direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.
Melalui kolaborasi teknologi, pengetahuan kebencanaan, dan pengalaman relawan di lapangan, aplikasi Warga Siaga diharapkan mampu memperkuat budaya siap siaga di tingkat komunitas. Aplikasi ini juga diharapkan dapat mempercepat terwujudnya desa-desa yang tangguh terhadap bencana.
Dengan semangat “Desa Tangguh Dimulai dari Kesiapsiagaan”, Warga Siaga menjadi wujud kolaborasi antara PMI, Relawan SIBAT, dan masyarakat dalam membangun ketangguhan sebelum bencana terjadi.
“Sebab, kesiapsiagaan bukan hanya tentang merespons ketika bencana datang, tetapi tentang bagaimana masyarakat belajar, bersiap, dan bertindak bersama sejak dini untuk melindungi kehidupan dan mengurangi risiko di masa depan,” pungkas Alfan.

Tinggalkan Balasan